Text
Tren pemikiran Islam di Indonesia pasca orde baru : Kajian terhadap literatur terjemah keislaman dan konsumsinya di kalangan pemimpin keagamaan Islam di Jawa Tengah dan Yogyakarta
Buku ini lahir dari sebuah penelitian di dua provinsi di Jawa Tengah
(Surakarta dan Semarang) serta Dl Yogyakarta. Tulisan secara khusus menelisik, bagaimana wajah pemikiran Islam di Indonesia pasca berakhirnya rezim Orde Baru dan bangkitnya era Reformasi
TREN PEMIKIRAN ISLAM
DI INDONESIA
PASCA-ORDE BARU
di pertengahan tahun 1998.
Runtuhnya rezim sentralistik Orde Baru mendorong muncul dan
bangkitnya kembali kelompok yang depresi selama 32 tahun, sekaligus membuka peluang politik baru bagi beragam kelompok, ditandai dengan bersemainya partai politik Islam, gerakan
keislaman, dan gerakan progresif-liberal Islam. Fenomena kemunculan kembali Islam dalam kehidupan publik ini tidak saja direpresentasikan dengan tampilnya di ruang publik, seperti: Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam (FPI), atau Salafi, tetapi juga merebaknya karya-karya keislaman terjemahan sebagai bagian dari peristiwa Islamisasi pasca otoritarian di Indonesia.
Maraknya produksi literatur-literatur keislaman terjemahan yang beragam corak ideologisnya, disertai munculnya penerbit-penerbit yang berafiliasi dengan gerakan tarbiyah, salafi, tahriri, dan Islam moderat, mendorong cara baru umat dalam mengkonsumsi referensi-referensi keislaman yang lebih luas. Kemudian berdiri toko buku-toko buku, yang secara "khas" pula memberikan fasilitas pendistribusian hasil terbitan buku-buku keislaman tersebut, disertai terbukanya sistem pemasaran di toko-toko buku "lama", seperti Gramedia, Gunung Agung, dan sebagainya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa literatur keislaman terjemahan memainkan
peran dalam proses Islamisasi di Nusantara. Setidaknya, sejumlah karya tentang tasawuf, figih, panduan membaca Al-Qur'an, dan kisah-kisah kehidupan orang-orang saleh telah mewarnai jenis rupa karya-karya literatur terjemahan. Karya-karya terjemahan terbaru yang beredar di Indonesia belum banyak mendapat perhatian, terutama akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 serta sejumlah peristiwa sosial politik yang belakangan ini terjadi. Literatur keislaman terjemahan punya arti penting bagi masyarakat Muslim, karena berhubungan dengan kualifikasi penulis terhadap isu-isu keislaman yang diangkat. Karena Islam di Nusantara selama berabad-abad terhubung dengan pusat kebudayaan Islam di Timur Tengah, sehingga pertukaran kebudayaan kerap terjadi dalam ranah teks.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada dasarnya ada proses keterhubungan antara penerbit yang menerbitkan buku-buku terjemahan keislaman dengan para tokoh Islam. Keterlibatan dan keterhubungan itu, baik dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung, tergantung pada sejauhmana tingkat afiliasinya Keterhubungan itu pada dasarnya melibatkan aksi-aksi kolektif sehinga ada proses gerakan diseminatif-ideologis dalam hubungan tersebut, dan keterhubungan tersebut bersifat normatif. Pola keterhubungan secara normatif ini mampu memberikan tren pemikiran Islam yang sifatnya lebih pada komunal, tetapi kemudian berimplikasi luas terhadap interaksi keberagamaan Islam di tingkat horizontal
Ketersediaan
Informasi Detail
- Judul Seri
-
-
- No. Panggil
-
P3 2019 7
- Penerbit
- Jakarta : Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Bekerjasama Dengan Pascasarjana Unive., 2019
- Deskripsi Fisik
-
xx, 166 hlm.; 21 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
978-602-0821-42-9
- Klasifikasi
-
P3
- Tipe Isi
-
-
- Tipe Media
-
-
- Tipe Pembawa
-
-
- Edisi
-
Cetakan I
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
-
- Pernyataan Tanggungjawab
-
Noorhaidi Hasan
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain
Lampiran Berkas
Komentar
Anda harus masuk sebelum memberikan komentar
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah